
Ada seorang penyihir di hutan Waltz Heragen. Saa dia mencapai kedewasaan, si penyihir tak lagi berbicara dengan yang lain. Di luar ketakutan bahwa mereka mungkin akan dimakan. Warga desa Waltz Heragen mulai membencinya. Si penyihir membangun tembok yang tak terlihat mengelilingi desa itu. Siapapun diperbolehkan masuk namun tak seorangpun bisa keluar dari sana.
Suatu hari, seorang anak yang telah tiga hari menghilang, mengucapkan nama si penyihir 3 kali dan jatuh dalam tidur yang dalam.
Para penduduk tak tahan lagi, mereka membawa obor di tangan mereka dan membakar rumah si penyihir. Saat itu, putri waktu turun dari surga dalam cahaya terang dan segera memadamkan api. Ia memberikan tanda pada penyihir dan keduanya mengangguk. Tembok disekeliling desa lenyap dan seekor monster yang sangat besar muncul di luar desa.
Setelah pertarungan panjang, si penyihir dan putri mengubah monster itu menjadi batu. Desa kembali aman dan damai.
Saat anak yang tertidur itu tersadar dari tidurnya, dia memberi tahu warga desa bahwa si penyihir membangun tembok itu untuk melindungi mereka dari monster tersebut dan supaya tembok itu terus ada, dia mengorbankan suaranya. Warga desa dengan tulus berterimakasih pada si penyihir dan memintanya untuk berbicara sebelum pergi ke istana putri. Tapi si penyihir tidak bicara. Dia hanya menyanyi.
Namanya tak lagi dikenal tapi lagu itu tetap bisa di dengar di suatu tempat di desa. Tempat yang akan menjadi temapat yang paling istimewa












